Thursday, July 28, 2005

PRIA VS COWOK

Tidak semua pria dewasa menjadi ‘pria’, ada juga yang masih begitu kekanakan setelah umurnya mencapai 40. Tenaaaang, jangan keburu marah dulu dengan kenyataan ini, mungkin memang sebagian orang dilahirkan untuk jadi ‘pria’, tapi memang ada juga yang cukup menjadi ‘cowok’ saja. Sekali lagi, jangan kawatir, terima saja diri Anda sebagai pria (P) atau sebagai cowok (C), toh semua punya nilai lebih dan kurang tersendiri. Dan yang tak kalah penting, percayalah kadang wanita tidak peduli.

Inilah Perbedaan mendasar antara seorang PRIA dan COWOK


P : Tahu jelas lima tahun lagi ia mau jadi apa
C : Tidak jelas lima menit lagi ia mau berbuat apa

P : Jago membuat wanita merasa tenang
C : Jago membuat cewek merasa senang

P : Bacaannya Jhon Grisham, mainannya golf, tontonannya CNN
C : Bacaannya Harry Potter, mainannya bilyar, tontonannya MTV

P : Sebelum umur 30 sudah banyak uang
C : Sebelum umur 30 sudah banyak dosa

P : Seimbang antara penghasilan dan pemasukan
C : Seimbang antara hutang dan pembayaran minimum

P : Mendukung emansipasi wanita, tapi tetap membayari bon makan wanita
C: Mendukung emansipasi wanita dengan membiarkan wanita bayar sendiri

P : Punya akuntan, penjahit dan dokter langganan
C : Punya salon, kafe dan bengkel langganan

P : Meminta Anda nimbrung ngobrol kalau mamanya menelepon
C : Pura-pura Anda tidak bersamanya jika mamanya menelepon

P : Putus dengan pasangannya sambil berjabatan tangan dan mengakui sulitnya menjembatani perbedaan antar mereka berdua, diiringi ucapan, “Kita tetap bisa berteman selamanya”.
C : Putus dengan pasangannya sambil kabur dari rumah, merokok berbatang -batang, plus ucapan, “Jangan undang aku ke pernikahanmu nanti!”

P : Mencintai wanita 10 % pada pertemuan awal dan meningkat terus
C : Mencintai wanita 100 % pada pertemuan awal dan menurun terus

P : Berpikir dewasa seperti orang usia 40 tahun saat berusia 17 tahun
C : Berpikir kekanakan seperti orang usia 17 tahun saat berusia 40 tahun

P : Bisa menang hanya dengan otak dalam konflik
C : Cuma bisa ngamuk, adu mulut, n adu otot kalo konflik

P : Mikirnya “Aku masih kurang pengetahuan, harus belajar lebh banyak”
C : Mikirnya “Aku yang terhebat di muka bumi, siapapun aku hadapin !!!”

P : Otak no 1, digabungin otot kalo kepaksa
C : Otot no 1, ditambah otak kalo punya

Nah … termasuk Pria atau Cowok kah kita ???

taken from
  • fendra page
  • cyber sex

    Ketika Iblis Membentangkan Sejadah



    Siang menjelang zuhur. Salah satu Iblis ada di Masjid. Kebetulan hari itu hari Jumaat, saat berkumpulnya orang. Iblis sudah ada di dalam Masjid. Ia nampak begitu khusyuk.

    Orang mulai berdatangan. Iblis menjelma menjadi ratusan bentuk & masuk dari segala penjuru, melalui jendela, pintu, ventilation atau masuk melalui lubang pembuangan air. Pada setiap orang, Iblis juga masuk melalui telinga, ke dalam saraf mata, ke dalam urat nadi, lalu menggerakkan denyut jantung setiap para jemaah yang hadir. Iblis juga melekat di setiap sejadah.

    “Hai, Blis!“, Kiyai berseru, ketika baru masuk ke Masjid itu.

    Iblis merasa terusik : “Kau kerjakan saja tugasmu, Kiyai. Tidak perlu kau melarang saya. Ini hak saya untuk mengganggu setiap orang dalam Masjid ini!“, jawab Iblis marah.

    “Ini rumah Tuhan, Iblis! Tempat yang suci, kalau kau mahu mengganggu, kau lakukan diluar nanti!“, Kiyai coba mengusir.

    “Kiyai, hari ini, adalah hari uji coba sistem baru“.

    Kiyai termangu.

    “Saya sedang menerapkan cara baru, untuk menjerat kaummu”

    “Dengan apa?” tanya Kiyai.

    “Dengan sejadah!” jawab Iblis

    “Apa yang dapat kau lakukan dengan sejadah, Blis?”

    “Pertama, saya akan masuk ke setiap pemilik saham industri sejadah. Mereka akan saya jebak dengan mimpi untung besar. Sehingga, mereka akan tega memeras buruh untuk bekerja dengan upah yang sedikit, demi keuntungan besar!”

    “Ah, itu kan memang cara lama yang sering kau pakai. Tidak ada yang baru, Blis?”

    “Bukan itu saja Kiyai…” tukas Iblis.

    “Lalu?” Jawab Kiyai.

    Iblis menjawab, “Saya juga akan masuk pada setiap designer sejadah. Saya akan menumbuhkan gagasan, agar para designer itu membuat sejadah yang lebar-lebar”

    “Untuk apa?” tukas Kiai.

    “Supaya, saya lebih berpeluang untuk menanamkan rasa egois di setiap kaum yang Kau pimpin, Kiyai! Selain itu, Saya akan lebih leluasa, masuk dalam barisan sholat. Dengan sejadah yang lebar maka barisan shaf akan renggang. Dan saya ada dalam kerenganggan itu. Di situ Saya dapat ikut membentangkan sejadah“. jawab Iblis dengan yakin.

    Dialog Iblis dan Kiyai terputus seketika.

    Dua orang datang, dan keduanya membentangkan sejadah. Keduanya berdampingan. Salah seorang memiliki sejadah yang lebar. Sementara yang seorang lagi, sejadahnya lebih kecil.

    Orang yang punya sejadah lebar tanpa melihat kiri kanan terus sahaja membentangkan sejadahnya. Sementara, orang yang mempunyai sejadah lebih kecil, tidak sedap hati jika harus mendesak jemaah lain yang sudah terlebih dahulu datang.

    Tanpa berfikir panjang, pemilik sejadah kecil membentangkan saja sejadahnya, sehingga sebahagian sejadah yang lebar tertutup sepertiganya. Kemudian keduanya melakukan sholat sunnah.

    “Nah, lihat itu Kiyai!“, Iblis memulai dialog lagi.

    “Yang mana?” Kiyai menjawab.

    “Ada dua orang yang sedang sholat sunnah itu. Mereka mempunyai sejadah yang berbeza ukuran. Lihat sekarang, aku akan masuk diantara mereka“. Seru Iblis yang kemudian lenyap.

    Ia sudah masuk ke dalam barisan shaf. Kiyai hanya memperhatikan kedua orang yang sedang melakukan sholat sunnah. Kiyai akan melihat kebenaran rencana yang dikatakan Iblis sebelumnya.

    Pemilik sejadah lebar, rukuk. Kemudian sujud. Tetapi, sambil bangun dari sujud, dia membuka sejadahya yang tertindih, lalu meletakkan sejadahnya di atas sejadah yang kecil.

    Hingga sejadah yang kecil kembali berada di bawahnya.

    Dia kemudian berdiri. Sementara, pemilik sejadah yang lebih kecil, melakukan perkara yang serupa.

    Dia juga membuka sejadahnya, kerana sejadahnya ditindih oleh sejadah yang lebar.

    Keadaan ini berjalan sampai akhir sholat. Bahkan, pada ketika sholat wajib juga, kejadian-kejadian seperti ini beberapa kali terihat di beberapa masjid. Orang lebih memilih menjadi di atas, daripada menerima di bawah. Di atas sejadah, orang sudah berebut kekuasaan atas lainnya.

    Siapa yang memiliki sejadah lebar, maka, ia akan meletakkan sejadahnya diatas sajadah yang kecil.

    Sejadah sudah dijadikan Iblis sebagai perbedaan kelas. Pemilik sejadah lebar, diindentitikan sebagai para pemilik kekayaan, yang setiap saat harus lebih di atas dari pada yang lain.

    Dan pemilik sejadah kecil, adalah kelas bawahan yang setiap saat akan selalu menjadi subordinate dari orang yang berkuasa. Di atas sejadah, Iblis telah mengajari orang supaya selalu menguasai orang lain.

    “Astaghfirullahal adziiiim“, ujar sang Kiyai perlahan.

    Wallahu’alam Bisshawab

    taken from : amanahonline

    Perang Salib dan Kebangkitan Islam

    Kuala Lumpur, 7 Februari 2004
    Oleh Adian Husaini


    Saat Presiden George W. Bush menggelorakan Perang Salib (Crusade) melawan
    teroris, pasca Tragedi 11 September 2001, sejatinya Bush tidak sedang
    terpeleset lidah. Bush sedang mengungkap alam sadarnya, bahwa semangat
    Crusade kini diperlukan menggalang kekuatan Barat. Berakhirnya Perang
    Dingin yang ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet, telah mengubah peta
    dunia. Barat, dengan serangkaian ideologinya, tidak lagi legitimate untuk
    eksis. Padahal, menurut penasihat kawakan politik luar negeri AS, Samuel
    P. Huntington (1996), untuk self-definition dan membangun motivasi,
    manusia perlu rival dan musuh. Maka, konsekuensinya, Barat perlu musuh dan
    semangat baru, selepas komunisme. Semangat Crusade itulah yang ingin
    digelorakan oleh Bush.
    Namun, tidak terlalu sukses. Citra AS di Eropa justru jeblok. Dalam jajak
    pendapat di Eropa, awal November 2003, AS menduduki posisi keenam sebagai
    negara yang mengancam perdamaian dunia, setelah sekutu utamanya, Israel.

    Eksistensi Barat memang sedang banyak dipertanyakan, apalagi selepas
    serangan AS ke Irak. Apakah Barat telah berakhir? Thomas L. Friedman, menulis satu kolom di International Herald Tribune (3 November 2003),
    berjudul "Is this the end of the West?" Barat memang telah pecah. AS dan
    Eropa, khususnya Jerman dan Perancis, telah berbeda dalam banyak hal
    prinsip. Carld Bildt, mantan PM Swedia, menyatakan, bahwa selama satu
    generasi, Amerika dan Eropa bersepakat dalam hal (tahun 1945): Aliansi
    Atlantik Utara membangun komitmen bersama untuk menciptakan pemerintahan
    demokratis, pasar bebas, dan menangkal pengaruh komunisme Uni Soviet. Kesepakatan ini berjalan hingga 10 tahun.

    Namun kini, semua itu sudah berubah. Bagi Eropa, tahun penting adalah 1989
    (keruntuhan Soviet), sedang bagi AS adalah 2001 (Tragedi WTC). Eropa dan
    AS juga gagal untuk membangun visi bersama dalam menghadapi isu-isu
    global. "We have also failed to develop a common vision for where we want
    to go on global issues confronting us," kata Bildt.

    Maka, dalam situasi seperti itu, Barat membutuhkan 'faktor pemersatu' (uniting factor). Dan orang seperti Bush berpikir, Crusade adalah
    jawabannya. Bush berpikir logis, dan tidak kalap. Perang Salib telah menorehkan bekas yang sangat mendalam pada Barat dan Islam, hingga kini.
    Buku Karen Armstrong, Holy War: The Crusades and Their Impact on Today's
    World,(1991), memberikan gambaran jelas, bagaimana pengaruh Perang Salib terhadap dunia, kini.
    Di tengah merosotnya pengaruh Gereja dan konflik antar kekuatan Kristen,
    pada 25 November 1095, Paus Urbanus II, menyerukan Perang Salib. Para
    ksatria Kristen diminta menghentikan konflik antar mereka dan bersatu padu
    menghadapi musuh Tuhan, yang mereka sebut "Turks". "The Turks adalah
    bangsa terkutuk, dan membunuh monster seperti mereka adalah suci. Maka,
    wajib bagi kaum Kristen memusnahkan mereka," kata Paus

    Seruan Paus Urbanus mendapat sambutan luar biasa. Ratusan ribu pasukan
    Kristen bergabung, dengan semangat tinggi merebut Jerusalem. Dalam buku
    klasiknya, Islam and the West (terbit pertama tahun 1960), Norman Daniel
    menyebut 'semangat Crusade adalah melakukan pembantaian demi Kasih Tuhan'.
    Maka, tidak heran, jika tentara Salib kemudian melakukan pembantaian yang
    luar biasa sadisnya terhadap Muslim, Yahudi, dan berbagai kelompok
    masyarakat lain.

    Tahun 1099, saat menaklukkan Jerusalem, mereka membantai sekitar 30.000
    warganya. Puluhan ribu kaum Muslim yang mengungsi di atap al-Aqsa dibantai
    dengan sadis, tanpa pandang bulu, wanita, anak-anak, atau orang tua.
    Setahun sebelumnya, 1098, pasukan Salib (Franks/Crusaders) membantai
    ratusan ribu kaum Muslim di Marra't un-Noman, Syria. Paus menjanjikan
    pengampunan dosa bagi siapa pun yang bergabung dalam pasukan Salib dan
    jaminan surga bagi yang mati dalam perang suci itu.

    Karena itu, menurut Armstrong, Crusade adalah proyek kerjasama
    besar-besaran Eropa di masa kegelapan mereka. Mereka dicengkeram dengan
    semangat Kristen yang tinggi. Jelas, Crusade merupakan jawaban terhadap
    kebutuhan Kristen Eropa ketika itu.

    Dunia Islam ketika itu 'superior' dalam peradaban dibanding semua
    peradaban yang ada. Islam sedang di puncak keemasan. Sementara Eropa
    berada dalam kegelapan. Islam, sebagai entitas politik, masih eksis.
    Khilafah masih tegak, meskipun terbagi menjadi tiga kekuatan besar (Mesir,
    Andalusia, dan Baghdad). Fragmentasi politik cukup parah. Pada medio abad
    11 M, Syria dan Palestina menjadi ajang rebutan antara Fathimiyah dan
    Abbasiyah. Fathimi mendominasi Jerusalem antara 869-1073. Sedangkan
    Abbasiyah menguasai Jerusalem antara 1073-1098.

    Di tengah kehebatan peradaban Islam dan eksistensi entitas politik Islam itulah, justru pasukan Salib berhasil merebut Jerusalem. Upaya penguasa
    Fathimiyah, Afdal bin Badr al-Jamali, untuk negosiasi dan berdamai dengan
    Salib ditolak. Semangat pasukan Salib sedang begitu tinggi untuk merebut
    Jerusalem. Mereka sangat percaya diri, meskipun lebih rendah tingkat
    peradabannya (hal yang sama terjadi saat Baghdad diduduki pasukan Mongol).


    Friksi politik di kalangan Muslim menjadi salah satu faktor utama
    kekalahan Islam pada tahap awal Perang Salib. Respons Muslim sangat tidak
    memadai. Dalam buku The Crusades: Islamic Perspective (1999), Carole
    Hillenbrand, menggambarkan repons kaum Muslim yang didominasi sikap apatis, terbelit problem internal, dan kompromistis.

    Penguasa Muslim di Syria, bukannya melakukan perlawanan terhadap pasukan
    Salib, tetapi malah berkompromi dengan musuh. Sebaliknya, The Franks
    justru menunjukkan semangat tinggi, fanatik, dan memiliki motivasi tinggi
    untuk mencapai tujuannya. Pada situasi seperti itulah, tampil Syekh Ali
    al-Sulami (1039-1106), seorang ulama bermazhab Syafii. Ia menulis kitab berjudul Kitab al-Jihad. Tampaknya, banyak ulama dan cendekiawan Muslim
    belum mengkaji Kitab ini. Yusuf al-Qaradhawi, dalam bukunya, Al-Imam
    al-Ghazali Bayna Madihihi wa Naqidihi, sama sekali tidak merujuk karya
    al-Sulami, saat membahas posisi al-Ghazali dalam Perang Salib. Padahal,
    kitab ini sangat penting untuk memahami kisah sukses kaum Muslim dalam
    merebut kembali Jerusalem dari tangan Pasukan Salib- termasuk peran
    al-Ghazali di dalamnya.

    Ali al-Sulami melihat, kelemahan Muslim bukan hanya di bidang politik,
    tetapi menyangkut soal sikap keagamaan. Melihat kondisi Muslim yang parah,
    al-Sulami merumuskan strategi jihad dalam dua tahap: (1) Melakukan
    perbaikan moral untuk mengakhiri kemunduran spiritual kaum Muslim. Ia
    melihat, kekalahan Muslim adalah pelajaran dan hukuman dari Allah, sebab
    mereka meninggalkan kewajiban kepada Allah dan mengabaikan kewajiban
    jihad. (2) Melakukan penggalangan potensi kekuatan umat melawan Crusaders.


    Dalam tahap perbaikan moral itulah, al-Sulami banyak mengutip pendapat
    al-Ghazali, termasuk dalam soal jihad. Tampaknya, al-Sulami bertemu
    al-Ghazali di Masjid Ummayah Damascus, saat al-Ghazali melakukan
    perenungan di Masjid ini pada periode awal Perang Salib. Saat-saat itulah
    al-Ghazali menulis karya monumentalnya, Ihya' Ulumuddin. Dalam kitabnya,
    al-Sulami mendeskripsikan secara jelas kondisi, situasi dan strategi
    mengalahkan pasukan Salib. Jihad ke dalam, memerangi hawa nafsu, dan jihad
    ke luar memerangi musuh, dipadukan menjadi satu kekuatan yang dahsyat.

    Selama puluhan tahun, dakwah al-Sulami tidak mendapat sambutan berarti.
    Titik terang mulai muncul saat pasukan Muslim di bawah pimpinan Imamuddin
    Zengi, merebut Edessa pada 1144. Sukses Imamuddin dilanjutkan putranya,
    Nuruddin Zengi, yang mengalahkan pasukan Salib pada 1149. Para penulis
    menggambarkan Nuruddin merupakan sosok religius dan pahlawan jihad.

    Sepeninggal Nuruddin (1174), tampil keponakannya, Shalahuddin al-Ayyubi
    sebagai komandan pasukan Muslim. Tokoh inilah yang berhasil membebaskan
    Jerusalem dari pasukan Salib pada 1187.

    Refleksi dalam berbagai hal, kondisi kaum Muslim kini, serupa dengan
    kondisi saat Perang Salib berlangsung. Perang ini sendiri memakan waktu
    yang panjang (1096-1204). Pasukan Salib hanya berhasil menduduki Jerusalem
    sekitar 87 tahun (1099-1187). Kelemahan akidah, moral, dan politik umat
    Islam dipandang sebagai satu problem. Solusi al-Sulami yang melihat
    problem umat secara komprehensif dan mengajukan solusi secara integral,
    perlu dipelajari. Problem politik, ekonomi, dan militer umat, tidak
    dipisahkan dari problem pendidikan dan dakwah. Bahkan, ia menempatkan
    aspek ini pada tahap awal, sebelum menyelesaikan problem politik dan militer.

    Namun, kondisi kaum Muslim kini tentu jauh lebih rumit. Ibarat penyakit,
    saat Perang Salib, umat Islam hanya terserang semacam "infeksi batu
    ginjal". Kini, umat Islam terserang penyakit kompleks, sejenis kanker
    ganas yang menghancurkan sel-sel tubuh. Bukan hanya secara ekonomi,
    politik, dan militer (untuk kawasan tertentu, seperti Palestina), kaum Muslim terhegemoni.

    Tapi, secara moral, konsep keilmuan, dan semangat pun, banyak yang tidak
    percaya diri pada konsep Islam. Bahkan, lebih jauh, tak sedikit
    cendekiawan, ulama, dan tokoh Islam sendiri, yang meyakini bahwa peradaban
    Barat - dengan nilai-nilai sekular dan liberalnya - adalah jalan
    kebangkitan umat Islam. Mereka menyerang habis-habisan pandangan tentang
    "keunikan Islam". Bahwa, Islam dan juga al-Qur'an sama saja dengan agama
    dan kitab lain. Konsep inna al-diina 'indallahi al-islam dan al-islaamu
    ya'luu wa yu'laa 'alaihi diputar balik dan ditentang jauh-jauh. Padahal,
    Barat masih percaya dan memaksakan konsep sekuler-liberalnya sebagai
    pandangan hidup dunia. Pada saat yang sama, justru langka ulama-ulama yang
    mumpuni dalam konsep keilmuan Islam dan sekaligus mumpuni mengkounter
    konsep destruktif terhadap Islam.

    Jalan kebangkitan adalah satu sunnatullah. Al-Qur'an banyak menjelaskan
    tentang jatuh bangunnya satu kaum atau peradaban (Mis. QS 6:44, 17:16).
    Jika umat Islam gagal belajar dari sejarah - sebagaimana diperintahkan
    al-Quran - dan gagal merumuskan masalahnya secara komprehensif, serta
    hanya melihat dan menangani masalahnya secara parsial dan superfisial,
    sulit dibayangkan, kebangkitan Islam akan terjadi dalam waktu dekat.
    Jangan-jangan, kebangkitan nanti menunggu munculnya generasi baru yang
    dijanjikan Allah (QS 5:54). Sebab, generasi yang ada didominasi oleh
    pangabaian terhadap problem keilmuan, akidah, syariah, ukhuwah, dan
    terlalu sibuk untuk mengejar kepentingan dan kemenangan komunal, parsial,
    dan sesaat. (Sabili)

    Wallahu a'lam.n

    Wednesday, July 27, 2005

    ..........Alhamdulillah

    setaun lebih saya ngerjain skripsi.
    baru tadi bgt kelarnya...
    bener-bener semua kemudahan yang saya dapet ga bakala ada
    jika ga ada yang ijinan.
    maksimumin usaha, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.
    bnyk bgt perubahan yang mesti dilakoni.
    duh ternyata bener, nganggep tau segalanya malah jadi sok tau bgt...
    bnyk bgt celah yang dapet keintip gara-gara ga lengkap..
    bnyk bgt yang nyasar karena ga sesuai dengan struktur...
    kertas hasil estimasi statistik, proposal, data, jurnal, poto kopian berbagai
    literatur, n sedikit tisu n plastik numplek blek jadi satu di kamar,
    mudah2an semuanya bukan sesuatu yang mubazir...

    duh Gusti Allah,
    semua yang saya lihat denger dan rasakan dapat memberi manfaat...