Thursday, October 20, 2005
kemanusian masyarakat manusia
di dalam kehidupan bermasyarakat manusia,
kita kadang tidak tahu harus bersikap apa
terhadap sesama manusia.
kadang kita terlalu sibuk
memandikan anjing
dan memangkas ranting.
Monday, October 10, 2005
dian...#2
mencari kemurnian dengan hanya berteman lilin....
hanya memaksa diri..
bukankah lebih baik duduk dan berpikir...
dian....#1
banyak keinginan yang tidak teredam satu persatu....
lalu gelap..
hanya dian yang memiliki nafsu menerangi dirimu...
sampai kapan...
sampai akhir hayat atau satu saat di depankah...
berjuang sendirian atau berkelompok sampil menatap satusatu
kerak bumi mana tempat yang cocok untuk bercocok tanam
di mana keinginan yang dapat tumbuh subur.
tidakkah akan banyak kegelapan yang memilih menjadi teman
jika hanya berkeinginan tanpa berani menatap matahari...
atau menghitung jarak bulan dari tangan mu...
lalu tidakkah terlalu berlebihan jika ada yang menyebut pecundang...
takkan terjadi....
takkan terjadi....
bukankah nyanyian itu yang berkecamuk dalam hati yang sama sekali gundah...
siapa tahu...
siapa tahu.....
lagilagi pertimbangan invalid datang bertubi
dari otak didera cedera putus asa............
lalu dimanakah temapat yang menentramkan....
tanpa gelap, tanpa bimbang....
jangan pernah bertanya...
yang melihat gelap hanya mata....
bukankah ada mata hati yang terus melihat namun diabaikan...
dan selama itu bimbang bergelayut manja di kedua pundak
Tuhan menegur dirimu setiap saat...
duri yang tergeletak di jalan bukti dia tetap menginginkan dirimu.......
tentu dapat dilihat...
tentu dapat dirasakan...
bukankah selalu di dekatmu....
Friday, October 07, 2005
the last day.......
hari terakhir di kampus unand...
ga nyadar dah lama jadi warga senior disini...
thanks bgt buat tementemen seangkatan n juniorjunior....
civitas academica...
sayonara.....
Wednesday, September 28, 2005
tentang akhwat sejati
Seorang gadis kecil bertanya pada ayahnya, "Abi
ceritakan padaku tentang Akhwat sejati?"
Sang ayah pun menoleh sambil kemudian
tersenyum.
Anakku...
Seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari
kecantikan paras wajahnya, tetapi dilihat dari
kecantikan hati yang ada di baliknya. Akhwat
sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang
mempesona, tetapi dilihat dari sejauh mana ia
menutupi bentuk tubuhnya. Akhwat sejati bukan
dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang ia
berikan tetapi dari keikhlasan ia memberikan
kebaikan itu. Akhwat sejati bukan dilihat dari
seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dilihat
dari apa yang sering mulutnya bicarakan. Akhwat
sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa,
tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara.
Sang ayah diam sejenak sembari melihat ke arah
putrinya.
"Lantas apa lagi Abi?" sahut putrinya.
Ketahuilah putriku...
Akhwat sejati bukan dilihat dari keberaniannya
dalam berpakaian tetapi dilihat dari sejauh mana ia
berani mempertahankan kehormatannya. Akhwat
sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda
orang di jalan tetapi dilihat dari Kekhawatiran
dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa
banyak dan besarnya ujian yang ia jalani tetapi
dilihat dari sejauhmana ia menghadapi ujian itu
dengan penuh rasa syukur.
Dan ingatlah...
Akhwat sejati bukan dilihat dari sifat supelnya
dalam bergaul, tetapi dilihat dari sejauhmana ia
bisa menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul.
Setelah itu sang anak kembali bertanya, "Siapakah
yang dapat menjadi kriteria seperti itu, Abi?"
Sang ayah memberikannya sebuah buku dan
berkata, "Pelajarilah mereka!" Sang anak pun
mengambil buku itu dan terlihatlah sebuah
tulisan "Isteri-Isteri Rasulullah".
Subscribe to:
Posts (Atom)