Thursday, March 22, 2012

manusia wakil dari bentuk alam semesta

manusia adalah bentuk kecil dari universalitas semesta.
manusia disusun dari berbagai materi yang bisa ditemui di alam bebas.
berbagai mineral ikut membangun.
besi, mangan, seng, dan sebagainya.
semuanya dalam komposisi yang pas dengan kebutuhan.
seperti racikan bumbu yang dibuat ibu untuk nasi goreng di pagi tadi.
pedas asin dan manis berada dalam batas yang bisa ditoleransi oleh lidah yang kemudian dinikmati.

dalam kehidupannya manusia akan mengalami berbagai keterkaitan,
baik dengan orang lain maupun dengan alam.
terkadang tersandung,
terkadang terbang.
semuanya lumrah jika kita bisa menikmati kesemuanya.
bukankah gula terasa manis karena kita yakin manis..?

kemudian dimana posisi saya di semesta raya ini ?
di sudut
di tengah
di belakang
di depan
atau tidak dimana-mana ?

hahaha...tidaklah saya sebingung itu, saya ada di sini,
ditubuh saya sendiri...
karena saya adalah bagian dari semesta itu sendiri.
penjelmaan dari diriku sendiri.

2011-2011

manusia wakil dari bentuk alam semesta 

kesederhaan itu sederhana

sebuah kesederhaan kadang memiliki dampak yang tidak sederhana.
seperti aliran angin yang sederhana, namun suatu saat akan mengubah tatanan sebuah kemapanan.
atau aliran sungai yang tenang mendamaikan, suatu saat akan melarutkan berbagai keadaan.

banyak di antara kita, termasuk saya, pada awalnya menganggap diri seorang manusia adalah sosok makhluk yang kompleks dan rumit, sehingga diperlukan suatu sains untuk mengukur kompleksitas tersebut.

manusia akan menjadi kompleks ketika ia beranggapan dunia menghendaki demikian.
manusia merasa menjadi otomatis kompleks ketika ia beranggapan semua yang dihadapi nya memerlukan sebuah kompleksitas dalam memahami maupun memecahkan masalah.

kemudian timbul sebuah masalah ketika kompleksitas tersebut menjadi semacam acuan dalam setiap berhadapan dengan situasi.
kita akan kehilangan hakikat tentang pengenalan ego atau diri.
kita akan beranggapan kita kesepian ketika kita tidak berhasil menghadapi kompleksitas.

---

negara ini mengakui jika tuhan itu satu.
saya setuju, karena iman saya mengatakan cukup satu tuhan saja untuk diri ini. tidak perlu ada substitusi atau determinan dari sosok tuhan.

organisme adalah bentuk dari sekumpulan organ yang bersatu. organ sendiri adalah sekumpulan jaringan yang membentuk fungsi tertentu. jaringan adalah sekumpulan sel yang memiliki bentuk dan fungsi yang sama. Menurut Max Schultze (1825 – 1974) ; sel merupakan kesatuan fungsional.

---

- jika tuhan itu banyak, yang mana harus kita sembah atau paling kita taati ?

- setiap sel "bekerjasama" membangun organisme melalui fungsi-fungsi sederhana yang melekat didirinya.

---

seperti ujian disekolah, hidup ini banyak jawaban atas sebuah pertanyaan.
namun tidak perlu khawatir, kata hati itu jujur dan lugas, ia akan memberimu jawaban atas pertanyaan.
tinggal memilih, mengikutinya atau tidak.
sederhana bukan.

---

If, "Manners maketh man" as someone said
Then he's the hero of the day
It takes a man to suffer ignorance and smile
Be yourself no matter what they say

(Sting - Englishman In New York)


Wednesday, December 17, 2008

kemanusiaan masyarakat manusia

di dalam kehidupan bermasyarakat manusia,
kita kadang tidak tahu harus bersikap apa
terhadap sesama manusia.
kadang kita terlalu sibuk
memandikan anjing
dan memangkas ranting.

Monday, November 10, 2008

Tahukah engkau bahwa imanmu telah runtuh?

tulisan di bawah ini pas banget dengan kondisi saya saat ini. saya sibuk, tepatnya sok sibuk agar terus bergerak dengan tujuan matematis tertentu. bangun leyehleyeh mandi shalat secepat saya bisa, berkemas lalu menyiapkan diri memasuki hari.
semoga tulisan yang saya kutip di bawah ini ada manfaatnya

Setiap hari saat aku terbangun,

Pikiranku langsung bekerja,
Betapa banyak yang harus aku lakukan hari ini.
Jadi, aku menyelesaikan shalat shubuhku
tergesa-gesa.

Tiada waktu untuk berdo'a
Apalagi untuk mengagungkan Asma- NYA
Untukku, shalat begitu sudah biasa.
Sejak aku memulai membangun karier
Demi menjamin masa depanku.

Setibanya di rumah
adalah waktu untuk bersantai
dan berbincang di telepon dengan kawan.
Tiada waktu untuk membaca Al-Qur'an.

Apalagi ada internet, kesukaanku.
Jadi, untuk menjaga imanku
aku betul-betul tiada waktu.
Untuk mengunjungi temanku yang sakit
atau aktif di panti asuhan dan panti jompo
terlalu sukar untukku.
Karena aku selalu kesulitan untuk membagi waktuku
akupun tiada waktu untuk berdiskusi tentang Islam.
Meski, aku tahu hal itu sangat diperlukan.

Untuk shalat sunnah pun sulit untukku.
Semua itu membuat imanku jatuh.
Sibuk di sini dan di sana.
Tak ada waktu, itulah sebabnya
aku belajar agam sesekali saja.
Sekali lagi, tak ada waktu, itulah sebabnya.

Hingga suatu hari Tuhanku memanggilku.
Dan aku diberi sebuah buku
tentang perjalanan hidupku.
Tiba-tiba aku merasa menyesal.
Mengapa aku tidak banyak menunaikan shalat.
Untuk bersukur dan melakukan kebaikan
serta menyempatkan membaca Al-Qur'an.
Hari pembalasan, aku betul-betul gelisah.
Aku menyesal tetapi sudah terlambat.
Surgaku bergantung pada kebaikanku.
Dan sekarang ini, kebaikanku belum cukup
juga shalatku.
Malaikat Kanan membuka bukuhidupku.

Kemudian dia berseru,
Wahai pemuda muslim,
Engkaulah yang selalu berkata
bahwa dirimu sangat sibuk adanya,
sehingga tiada waktu untuk mengisi buku amal baikmu.

Tahukah engkau bahwa imanmu telah runtuh?
Buku amal baikmu terlalu sedikit isinya
untuk masuk ke dalam surga.
Mataku langsung memerah dan berkaca-kaca.
Karena aku tahu, tempatku di mana …

Diambil dari buku "The Inspiring Words"

Wednesday, November 05, 2008

burung ayah, burung anak....

pada suatu sore, seorang ayah dan anak lelakinya duduk di beranda depan rumah.
mereka berbicara banyak hal.
sesaat keduanya terdiam.
sang ayah bertanya kepada putranya.
"anakku, burung apakah gerangan di atas pohon iTu..?"
"oh, itu burung gagak ayak."

beberapa saat kemudian sang ayah bertanya kepada putranya lagi.
"anakku, itu burung apa, dia hingga di pohon itu..?"
"burung gagak ayah..."

lalu sang ayah bertanya lagi.
"anakku, itu burung apa.."
"ayah, itukan burung gagak, masih burung yang sama ayah."

sang ayah terus bertanya hal yang sama....
untuk yang ketuju kalinya sang ayah bertanya hal sama..
"anakku itu burung apa..?"
sang anak berdiri di depan ayahnya..
"ayah, ayah sudah sepuluh kali bertanya hal yang sama, dan burung itu tetap burung gagak, walau ayah bertanya berapa kalipun, dia tidak akan berubah..."

sang ayah diam.
lalu dia berdiri kemudian masuk ke dalam rumah.
beberapa saat kemudian dia keluar sambil membawa sebuah buku harian.
dia duduk di tempat semula, dan sang anak pun duduk sambil menahan kesal.

buku di buka lalu dia membaca sebuah halama terakhir...
"sepuluh tahun yang lalu, aku dan anak lelakiku duduk di beranda dan pada sore yang sama. ia menanyakan tentang apa nama burung yang hinggap di pohon itu. dua puluh kali. namun dengan tetap sabar dan tersenyum aku terus menjawab, walau bibir kecilnya bertanya hal yang sama. aku bangga pada putraku itu."
"hari ini, aku dan putraku duduk di beranda yang sama. aku menanyakan hal yang sama dengan pertanyaan yang ia lontarkan sepuluh tahun lalu. namun baru tujuh kali aku bertanya, ia membentakku."

sang anak tertunduk.
diam.
nafasnya tidak teratur.
isaknya mulai terdengar.
lalu sambil memeluk kaki ayah nya ia berkata..
"ayah, maafkan putramu ini...."