Friday, August 05, 2005

Harus Selalu Ada Upaya Merajut Keindonesiaan, Perlu Dicari Simpul Perekat Bangsa



Simpul-simpul yang merekatkan keindonesiaan
perlu terus dicari guna menumbuhkan rasa keindonesiaan. Pembentukan
Indonesia tidak terhenti setelah proklamasi kemerdekaan pada 17
Agustus 1945, melainkan masih merupakan sebuah cita-cita yang terus
diwariskan.

Asisten Deputi Sejarah Nasional Departemen Kebudayaan dan
Pariwisata Susanto Zuhdi, Selasa (2/8), mengungkapkan bahwa
keindonesiaan merupakan sebuah produk pemikiran dari para founding
father pada awal abad ke-20. Namun, pembentukan keindonesiaan belum
selesai begitu teks proklamasi dibacakan.

Menurutnya, jika pembentukan keindonesiaan terhenti atau dianggap
sudah selesai, jangan-jangan nanti Indonesia diibaratkan seperti
kapling yang harus dibagi-bagi. Keindonesiaan merupakan sebuah cita-
cita yang masih harus terus diperjuangkan dan diteruskan ke generasi
selanjutnya. Dalam petikan wawancara berikut, ahli sejarah maritim
dari Universitas Indonesia (UI) ini lebih dalam menjelaskan simpul-
simpul perekat itu.


Bagaimana mempertautkan unsur Indonesia yang terdiri atas ribuan
pulau, etnis, budaya, dan agama yang berbeda?

Sebetulnya kita sudah memiliki modal sosial dan budaya. Hanya saja
perlu terus ditemukan simpul-simpul yang menunjukkan interaksi dan
kebersamaan sebagai sebuah bangsa dan negara. Saya melihat
setidaknya empat hal dapat digunakan untuk membangun keindonesiaan.

Pertama, kemaritiman. Laut harus dipandang sebagai pemersatu dalam
sebuah negara kepulauan. Ada kesamaan gagasan dari jiwa orang yang
berlayar, yakni dinamis, berinteraksi, dan berdialog. Sayangnya,
dunia maritim kerap terpinggirkan.

Kedua, ingatan bersama akan pengalaman penjajahan yang sebetulnya
masih dapat jadi semangat. Ada ingatan bersama sehubungan dengan
kolonialisasi yang dirasakan di wilayah Indonesia. Ketiga,
pengalaman sesudah proklamasi 17 Agustus 1945, sebut saja pengalaman
bersama jatuh bangun dalam membangun demokrasi.

Keempat, diaspora atau penyebaran suku-suku bangsa di Indonesia
yang sebetulnya dapat menjadi simbol perekat, meskipun tidak dapat
disangkal terdapat letupan konflik. Untuk itu perlu digunakan
pendekatan kebudayaan, yakni melihat interaksi antarkelompok
masyarakat dengan budayanya masing-masing. Dalam hal teknologi
misalnya, ada kemampuan suku bangsa yang bisa mengatur air, seperti
Bali dengan model subak. Ternyata di daerah lain seperti di beberapa
tempat di Poso berkembang model serupa. Sebetulnya ada unsur-unsur
budaya yang masuk karena ada interaksi. Untuk mengangkat ini butuh
waktu dan kesadaran bersama akan pentingnya perspektif budaya.

Simpul-simpul perekat rasa keindonesiaan seperti apa?

Tahun 2003, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata pernah
membukukan simpul-simpul perekat keindonesiaan melalui tempat
pembuangan dan makam pejuang bangsa. Para pejuang dari dari berbagai
daerah itu ternyata dalam pengasingannya di daerah lain menunjukkan
tetap tidak kehilangan semangat juang.

Sebut saja Tuanku Imam Bondjol yang dikenal sebagai pejuang dari
Sumatera Barat. Oleh karena perlawanannya, Pemerintah Hindia Belanda
kemudian mengasingkannya ke Cianjur. Tetapi kepahlawanan Imam
Bondjol terus tampil. Di Cianjur, Imam Bondjol menjadi guru agama
dan punya banyak murid sehingga dianggap berbahaya oleh Belanda. Ia
lalu dipindahkan ke Ambon, kemudian ke Minahasa.

Cara lain untuk menumbuhkan rasa keindonesiaan?
Pendidikan kepada generasi muda merupakan hal yang sangat penting.
Misalnya dengan melalukan lawatan sejarah. Departemen Kebudayaan dan
Pariwisata sejak tahun 2003 menyelenggarakan program lawatan sejarah
bagi guru dan siswa berprestasi di seluruh Indonesia. Setiap
provinsi mengirimkan wakilnya untuk mengikuti lawatan sejarah
nasional.

Mereka yang ikut dalam program ini sebelumnya telah melakukan
lawatan sejarah di daerah masing-masing. Dalam lawatan sejarah
nasional mereka mengunjungi daerah tertentu sekaligus
mempresentasikan lawatan sejarah di daerah masing-masing. Tahun 2005
ini, lawatan sejarah diadakan di Makassar dan Pulau Selayar, yang
menjadi salah satu sentra pelayaran di timur Indonesia. (INE)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0508/03/humaniora/1947189.htm

No comments: